GANGGUAN SISTEM PERSYARAFAN


GANGGUAN SISTEM PERSYARAFAN





MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Patofisiologi
yang dibina oleh Ibu Ira Rahmawati, S. Kep. Ns., MN.










Oleh
1.      Laila Firda Rahmawati                       (P17220191002)
2.      Citra Noriya                                        (P17220191012)
3.      Mella Nur Sabillah                              (P17220193028)
4.      Sevia Kurnia Fitri                                (P17220193029)











POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG
JURUSAN KEPERAWATAN
D3 KEPERAWATAN LAWANG
April 2020







KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat  Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas rahmatnya penyusun bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Gangguan Sistem Persyarafan” ini.Makalah ini disusun untuk membantu mahasiswa dalam mempelajari ilmu keperawatan dan memperluas ilmunya terutama mengenai Gangguan Sistem Persyarafan yang akan dibahas pada makalah ini.Penulisan makalah ini diharapkan bisa bermanfaat bagi pembaca.Meskipun dalam penulisan makalah ini tidak sempurna, penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk perbaikan dalam penulisan makalah selanjutnya.



                                                                                                                               25 April 2020      

                                                                                                                                   

                                                                                                       Penyusun  

  


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii


BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang........................................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah...................................................................................... 1
1.3  Tujuan........................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian gangguan system saraf............................................................ 3
2.2 Tanda dan gejala gangguan system saraf................................................. 3
         2.3 Penyebab  dan faktor pemicu gangguan sistem saraf............................... 6
         2.4 Cara penanganan gangguan sistem saraf.....................................................
         2.5 Pengertian hidrosefalus...............................................................................
         2.6 Penyebab dan ciri hidrosefalus...................................................................
         2.7 Cara penanganan hidrosefalus ...............................................................................
         2.8  Pengertian,gejala,factor dan cara mencegah meningitis.............................

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan............................................................................................... 8
3.2 Saran......................................................................................................... 8

DAFTAR RUJUKAN............................................................................................. 9



BAB I
PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan (1) latar belakang, (2) rumusan masalah, dan (3) tujuan. Berikut ini diuraikan ketiganya.

1.1  Latar Belakang
Lebih jelasnya nanti akan dibahas dalam sub bab di makalah ini.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, berikut rumusan masalah pada makalah ini.
1.      Apa yang dimaksud dengan gangguan sistem persyarafan?
2.      Apa saja tanda dan gejala gangguan sistem saraf?
3.      Apa saja penyebab dan faktor pemicu gangguan sistem saraf?
4.      Bagaimana cara penanganan gangguan sistem saraf?
5.      Apa yang dimaksud dengan hidrosefalus?
6.      Apa saja penyebab dan ciri hidrosefalus?
7.      Bagaimana cara penanganan hidrosefalus?
8.      Apa yang dimaksud dengan meningitis?



1.3  Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah, berikut ini tujuan penulisan makalah, yaitu untuk mengetahui:
1.      Pengertian gangguan sistem persyarafan
2.      Tanda dan gejala gangguan sistem saraf
3.      Penyebab dan Faktor Pemicu gangguan sistem saraf
4.      Cara penanganan gangguan sistem saraf
5.      Pengertian hidrosefalus
6.      Penyebab dan ciri hidrosefalus
7.      Cara penanganan hidrosefalus
8.      Pengertian,gejala,factor dan cara mencegah meningitis



BAB II
PEMBAHASAN

Bab ini membahas (1) pengertian gangguan sistem persyarafan, (2) tanda dan gejala gangguan sistem saraf, (3) penyebab dan Faktor Pemicu gangguan sistem saraf, (4) cara penanganan gangguan sistem saraf, (5) pengertian hidrosefalus, (6) penyebab dan ciri hidrosefalus,(7) cara penanganan hidrosefalus, dan (8) pengertian,gejala,factor dan cara mencegah meningitis.Berikut uraian kedelapan sub bahasan tersebut.

2.1   Pengertian gangguan sistem persyarafan

Sakit saraf adalah kondisi di mana terjadi gangguan pada sistem saraf. Ketika sistem saraf terganggu, maka penderitanya bisa kesulitan bergerak, berbicara, menelan, bernapas, atau berpikir. Penderita juga bisa mengalami gangguan pada ingatan, panca indera, atau suasana hati. Sistem saraf manusia dibagi menjadi dua, yaitu sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Saraf pusat manusia terdiri atas otak dan saraf tulang belakang. Saraf tepi terdiri dari serabut saraf yang bertugas menghubungkan antara berbagai organ tubuh manusia dengan sistem saraf pusat. Secara bersama-sama, ketiga bagian sistem saraf tersebut berfungsi mengontrol semua fungsi tubuh.
Beberapa fungsi tubuh yang dikontrol oleh sistem saraf adalah:
  • Pertumbuhan dan perkembangan otak
  • Sensasi dan persepsi
  • Pikiran dan emosi
  • Proses belajar dan ingatan
  • Pergerakan, keseimbangan dan koordinasi
  • Tidur
  • Pemulihan dan rehabilitasi
  • Suhu tubuh
  • Pernapasan dan detak jantung.
Ada tiga tipe saraf pada tubuh manusia, yaitu:
  • Saraf otonom. Saraf ini berfungsi mengontrol gerakan tubuh yang tidak disadari atau gerakan tubuh setengah disadari seperti detak jantung, tekanan darah, pencernaan, dan pengaturan suhu tubuh.
  • Saraf motorik. Jenis saraf yang mengontrol gerakan dengan mengirimkan informasi dari otak dan tulang belakang menuju ke otot.
  • Saraf sensorik. Saraf ini akan mengirimkan informasi dari kulit dan otot kembali ke tulang belakang dan otak. Informasi ini diproses agar manusia merasakan sakit atau sensasi lainnya(Marianti, 2018).
2.2   Tanda dan gejala gangguan sistem saraf

Berikut adalah tanda-tanda dan gejala yang paling umum dari gangguan sistem saraf. Namun, setiap orang dapat mengalami gejala yang berbeda. Dikutip dari Gejalanya meliputi: Berikut adalah tanda-tanda dan gejala yang paling umum dari gangguan sistem saraf. Namun, setiap orang dapat mengalami gejala yang berbeda. Dikutip dari Gejalanya meliputi:


1. Tremor

Sudah tidak asing kan dengan tremor? Pengidapnya mengalami gerakan gemetar yang terjadi secara berulang tanpa disengaja. Pada kebanyakan kasus, tremor biasanya terjadi di tangan dan kepala.
Namun, sebagian kasus lainnya bisa terjadi pada tubuh bagian lain. Contohnya kaki, perut, atau suara bisa ikut bergemetar. Apa sebabnya? Umumnya tremor terjadi karena gangguan pada bagian otak yang berperan dalam mengatur pergerakan otot.

2. Hilangnya Keseimbangan

Hilangnya keseimbangan juga bisa menjadi gejala penyakit saraf lainnya. Pernah merasa akan terjatuh atau tersandung tiba-tiba tanpa sebab yang jelas? Nah, bisa saja kondisi ini menandai gangguan saraf tepi. Gangguan saraf ini yang bisa menyebabkan gangguan persepsi, gangguan serebelum, dan gangguan saraf kranial VIII.

3. Berkeringat Terlalu Banyak

Selain dua hal di atas, gejala penyakit saraf bisa ditandai dengan keringat yang terlalu banyak. Contohnya, bila tubuh mengeluarkan keringat berlebih saat cuaca sedang dingin atau sebaliknya, mengeluarkan keringat yang terlalu sedikit padahal cuaca sedang panas. Nah, kondisi ini bisa saja menandai gejala penyakit saraf otonom.

4.Kebas atau Mati Rasa
Kebas, kesemutan, mati rasa, atau rasa terbakar juga bisa menandai gangguan penyakit saraf. Keluhan yang muncul sesaat dan berlangsung sementara bukan masalah yang perlu dikhawatirkan.

5. Mengalami Disfagia
Pernah mendengar disfagia? Di dalam dunia medis, keluhan ini ditandai dengan sulit menelan. Nah, disfagia ini merupakan salah satu penyakit saraf. Ketika seseorang mengidap disfagia, maka proses penyaluran makanan atau minuman dari mulut ke lambung akan lebih lama. Mereka juga membutuhkan usaha ekstra untuk melewati proses ini.Gejala penyakit saraf disfagia bukan cuma sulit menelan saja. Pada beberapa kasus, pengidapnya mengalami nyeri saat menelan, atau makanan yang tersangkut di dalam tenggorokan atau dada.

6.Kaki Nyeri Hingga Kesulitan Bergerak

Rusaknya atau masalah pada pada saraf sensorik bisa menimbulkan gejala rasa nyeri yang hebat secara terus-menerus. Selain itu, bisa pula timbulnya rasa panas atau kesemutan. Umumnya keluhan ini terjadi mulai dari punggung bagian bawah dan menyebar sampai ke bagian kaki. Banyak kondisi yang menyebabkan penyakit saraf sensorik, salah satunya jatuh atau trauma pada sumsum tulang belakang.
Gejala penyakit saraf juga bisa ditandai dengan kesulitan bergerak. Bila kerusakan saraf terjadi pada saraf motorik, maka pengidapnya bisa mengalami kesulitan bergerak atau bahkan kelumpuhan. Di samping itu, kelumpuhan juga bisa menjadi pertanda masalah serius yang membutuhkan penanganan cepat ke rumah sakit terdekat, misalnya stroke(Rizal Makarim, 2019).

Selain hal-hal di atas, masih banyak lagi gejala penyakit saraf lainnya. Penyakit saraf bisa menimbulkan keluhan atau gejala pada pengidapnya.Berikut ini gejala penyakit saraf lainnya menurut ahli dari Johns Hopkins Medicine dan National Institutes of Health - MedlinePlus, yaitu:
- Atrofi otot;
- Berbicara jadi cadel;
- Kekakuan otot;
- Sakit kepala yang muncul mendadak dan membandel;
- Kehilangan memori;
- Kehilangan penglihatan atau penglihatan ganda;
- Kehilangan atau kelemahan pada otot;
- Nyeri punggung yang menjalar ke telapak kaki atau bagian tubuh lainnya;
- Kedutan pada mata atau tubuh lainnya yang tidak kunjung membaik.

2.3   Penyebab dan Faktor Pemicu gangguan sistem saraf
Tanda-tanda dan gejala yang muncul bisa saja ringan atau berat bergantung pada penyebab gangguan. Dikutip dari Web MD, beberapa kondisi serius, penyakit, dan cedera yang dapat menyebabkan masalah sistem saraf, meliputi:
  • Masalah pasokan darah (gangguan vaskuler)
  • Cedera (trauma), terutama pada kepala dan sumsum tulang belakang
  • Masalah yang muncul pada saat lahir (kongenital)
  • Masalah kesehatan mental, seperti gangguan kecemasan, depresi, atau psikosis
  • Paparan zat beracun, seperti karbon monoksida, arsenik, atau timah
  • Masalah yang menyebabkan hilangnya fungsi secara bertahap (degeneratif), seperti penyakit Parkinson, multiple sclerosis (MS), Amyotrophic lateral sclerosis (ALS), penyakit Alzheimer, penyakit Huntington, dan neuropati perifer
  • Infeksi, yang dapat terjadi di otak (ensefalitis atau abses) atau selaput yang menyelimuti otak dan sumsum tulang belakang (meningitis)
  • Penggunaan berlebihan atau putus obat dari obat-obatan yang diresepkan dan dijual bebas, narkoba illegal, atau alkohol
  • Tumor otak.

àFaktor Pemicu

Beberapa faktor risiko dapat meningkatkan risiko kondisi ini:
  • Cedera dan jatuh yang menyebabkan saraf menjadi rusak
  • HIV/AIDS
  • Alkoholisme: defisiensi Tiamin (B1), khususnya, umum terjadi pada orang yang menggunakan alkohol karena alkohol berkontribusi terhadap kebiasaan makan yang buruk dan defisiensi lainnya
  • Antibiotik: antibiotik tertentu telah dikenal memberikan efek samping neuropati(Widyawinata, 2018).
2.4   Cara penanganan gangguan sistem saraf
Pada banyak kasus, kerusakan saraf tidak bisa disembuhkan secara total. Tapi ada beberapa penanganan untuk mengurangi gejalanya. Tujuan pertama pengobatan sakit saraf adalah untuk menangani kondisi medis yang menjadi penyebabnya serta mencegah kerusakan saraf lebih lanjut. Beberapa di antaranya adalah:
  • Pengobatan untuk mengatasi kondisi autoimun.
  • Membatasi kadar gula darah pada penderita diabetes.
  • Memperbaiki gizi.
  • Mengganti obat, jika obat menyebabkan kerusakan saraf.
  • Memberikan pereda rasa sakit, antidepresan trisiklik, atau beberapa obat antikejang untuk mengurangi nyeri saraf.
  • Fisioterapi.
  • Pembedahan untuk mengatasi tekanan atau trauma pada saraf.
  • Transplantasi saraf
Apa saja yang dapat dilakukan secara mandiri untuk mengatasi gangguan sistem saraf dan otak?
Anda harus mengikuti panduan pencegahan berikut untuk menjaga kesehatan tubuh dan sistem saraf:
  • Olahraga teratur
  • Jangan merokok atau menggunakan produk tembakau
  • Banyak beristirahat
  • Tangani kondisi kesehatan yang dapat menurunkan fungsi sistem saraf, seperti diabetes, tekanan darah tinggi
  • Jalani diet yang seimbang
  • Minum banyak air dan cairan lain. Ini membantu mencegah dehidrasi, yang dapat menyebabkan linglung dan masalah memori

2.5   Pengertian hidrosefalus
Hidrosefalus (hydrocephalus) adalah kondisi penumpukan cairan di dalam otak yang mengakibatkan meningkatnya tekanan pada otak. Arti harfiah dari penyakit ini adalah “air di dalam otak.” Cairan serebrospinal biasanya mengalir melalui ventrikel dan menggenangi otak dan tulang belakang.
Cairan serebrospinal biasanya mengalir melalui ventrikel dan mengenangi otak dan tulang belakang. Jika cairan serebrospinal terlalu banyak, maka jaringan otak akan rusak dan menyebabkan gangguan dalam fungsi otak.
Fungsi dari cairan serebrospinal adalah menjaga otak yang volumenya berat agar terapung di daam tengkorak, merupakan bantalan otak untuk mencegaah cedera, membuang limbah metabolisme di dalam otak daan mempertahankan tekanan yang tetap di otak, tepatnya antara rongga otak dan tulang belakang untuk mengompensasi perubahan tekanan darah di dalam otak.
Gangguan dalam otak ini sangat berpengaruh bagi penderitanya. Karena menyebabkan gangguan perkembangan fisik maupun intelektual. Belum lagi, jika penyakit tersebut memiliki komplikasi yang serius. Sekalipun bias menimpa ke semua usia, namun hidrosefalus umum terjadi pada usia dewasa dan bayi. Para ilmuwan mencatat  bahwa 2 dari 1000 bayi telahir dengan kondisi hidrosefalus.

2.6   Penyebab dan ciri hidrosefalus
Penyebab hidrosefalus yaitu :
-          Terjadinya penyumbatan yang mencegah cairan cerebrospinal mengalir normal.
-          Terjadi penurunan kemampuan pembuluh darah untuk menyerapnya.
-          Otak ikut memproduksi kelebihan cairan tersebut.
Pada bayi yang belum dilahirkan penyebabnya adalah :
-          Cacat belakang dimana tulang belakang tidak menutup
-          Kelainan genetik
-          Adanya infeksi tertentu selama kehamilan
Pada bayi dan balita penyebabnya adalah :
-          Infeksi sistem saraf pusat seperrti meningitis
-          Pendarahan otak selama atau setelah melahirkan, terutama pada bayi premattur
-          Cedea sebelum, selama, atau sesudah melahirkan
-          Trauma kepaala
-          Tumor system saraf pusat
Pada  orang dewasa penyebabnya adalah :
-          Infeksi yang berhubungan dengan otak
-          Cedera kepala
-          Pendarahan dari pembuluh darah di otak
-          Pernah menjalani operasi otak

Ciri Hidrosefaluus

Pada Bayi :
-          Kepala luar biasa besar dan terjadinya peningkatan ukuran kepala yang sangat pesat.
-          Menggembungnya ubun-ubun, atau titik lemah di permukaan tengkorak.
-          Mata yang tetap melihat ke bawah.
-          Kejang.
-          Bayi mengalami kerewelan yang ekstrim.
-          Muntah.
-          Mengantuk yang berlebihan.
-          Pola makan yang buruk.


Pada Balita dan Orang Dewasa :
-          Sering jatuh secara tiba-tiba.
-          Sakit kepala hebat.
-          Mual.
-          Sulit berjalan.
-          Penglihatan terganggu.
-          Sulit mengingat kejadian.
-          Sulit konsentrasi.
-          Masalah pada kandung kemih

2.7   Cara penanganan hidrosefalus
1.Operasi Pemasangan Sistem VP Shunt
Operasi yang juga dikenal dengan sebutan “operasi vp shunt” merupakan sebuah prosedur bedah medis untuk memasang alat shunt berupa selang fleksibel yang berfungsi melepaskan tekanan dalam otak agar cairan yang menumpuk dapat dialirkan ke organ lain yang lebih sehat. Prosedur ini bersifat permanen pada pasien dan selang yang ditanam harus terus diperiksa secara berkala.
Sistem VP shunt sangat efektif dalam mengatasi penumpukan cairan dalam otak pasien. Akan tetapi prosedur ini sama sekali tidak murah alias membutuhkan biaya yang mahal sehingga memberatkan pasien yang berasal dari latar belakang keluarga kurang mampu.
2.Bedah Ventrikulostomi
Sama seperti operasi vp shunt, bedah ventrikulostomi juga merupakan metode pengobatan yang lazim dilakukan pada penderita hidrosefalus. Bedah ini adalah sebuah prosedur untuk memasang alat penyerap cairan serebrospinal yang menumpuk di kepala. Namun berbeda dengan operasi vp shunt, bedah ventrikulostomi memungkinkan dokter untuk memasang alat di luar kepala sehingga hasil dari prosedur ini dapat berupa pemasangan alat sementara atau permanen.
3.Terapi Antibiotik
Pada beberapa kasus, gejala hidrosefalus dapat diobati dengan penggunaan obat-obatan antibiotik sesuai anjuran dokter. Akan tetapi, metode ini hanya dapat diaplikasikan pada pasien yang baru menunjukkan gejal awal dan belum sampai ke tahap penumpukan cairan.
Selain terapi antibiotik , beberapa pasien juga seringkali melakukan terapi herbal untuk menyembuhkan hidrosefalus. Padahal, jika cairan sudah terlanjur menumpuk di otak, maka pengeringan area otak dengan operasi shunt dan ventrikulostomi merupakan cara yang paling efektif.
4.Terapi Motorik
Sebagian besar pasien hidrosefalus biasanya mengalami gangguan motorik akibat kerusakan jaringan pada otak. Hal ini sangat rentan terjadi pada pasien bayi dan anak-anak yang memiliki struktur jaringan otak lebih lemah daripada orang dewasa.
Untuk mengatasi hal ini, terapi motorik merupakan solusi yang paling dianjurkan untuk mengembalikan fungsi gerak dan keseimbangan tubuh. Penting untuk dicatat bahwa terapi ini merupakan sebuah prosedur jangka panjang yang memerlukan pengawasan serius dari orang tua. Oleh karena itu, melakukan terapi motorik sejak dini adalah prioritas yang harus diutamakan bagi para penderita penyakit ini.

2.8   Pengertian,gejala,factor dan cara mencegah meningitis



v  PENGERTIAN
Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meningen, yaitu lapisan pelindung yang menyelimuti otak dan saraf tulang belakang. Meningitis terkadang sulit dikenali, karena penyakit ini memiliki gejala awal yang serupa dengan flu, seperti demam dan sakit kepala.

v  GEJALA DAN FAKTOR MENINGITIS
Meski gejalanya awalnya mirip dengan flu, meningitis tetap harus diwaspadai, karena juga dapat menimbulkan kejang dan kaku pada leher. Pada bayi di bawah usia 2 tahun, meningitis umumnya ditandai dengan memunculkan benjolan di kepala.
Ada beberapa faktor yang dapat memicu meningitis, antara lain:
           Infeksi kuman.
           Penyakit kanker dan lupus.
           Efek samping obat dan operasi otak.
Risiko terkena meningitis juga akan meningkat pada ibu yang sedang hamil atau lupa menjalani imunisasi.
v  CARA MENGOBATI DAN MENCEGAH MENINGITIS
Pengobatan meningitis umumnya berbeda-beda tergantung kepada penyebabnya. Sebagai contoh, dokter bisa meresepkan obat antimikroba, atau menjalankan terapi lain bila meningitis disebabkan oleh kanker atau lupus.

Penyakit ini bisa dicegah dengan menjalani gaya hidup sehat dan menghindari kondisi yang dapat memicu penyebaran infeksi. Guna meningkatkan kekebalan tubuh dari kuman penyebab meningitis, lakukan vaksinasi (termasuk vaksin PCV) sesuai anjuran dokter.








BAB III
PENUTUP

Bab ini menjabarkan (1) kesimpulan dan (2) saran. Berikut ini jabaran keduanya.

3.1 Kesimpulan
Sakit saraf adalah kondisi di mana terjadi gangguan pada sistem saraf. Tanda-tanda dan gejala yang paling umum dari gangguan sistem saraf adalah tremor, atrofi otot,berbicara jadi cadel,kekakuan otot,sakit kepala yang muncul mendadak dan membandel,kehilangan memori,kehilangan penglihatan atau penglihatan ganda,kehilangan atau kelemahan pada otot,nyeri punggung yang menjalar ke telapak kaki atau bagian tubuh lainnya,kedutan pada mata atau tubuh lainnya yang tidak kunjung membaik. pencegahan untuk menjaga kesehatan tubuh dan sistem saraf:
  • Olahraga teratur
  • Jangan merokok atau menggunakan produk tembakau
  • Banyak beristirahat
  • Tangani kondisi kesehatan yang dapat menurunkan fungsi sistem saraf, seperti diabetes, tekanan darah tinggi
  • Jalani diet yang seimbang
  • Minum banyak air dan cairan lain. Ini membantu mencegah dehidrasi, yang dapat menyebabkan linglung dan masalah memori
Hidrosefalus (hydrocephalus) adalah kondisi penumpukan cairan di dalam otak yang mengakibatkan meningkatnya tekanan pada otak.
Cara penanganan hidrosefalus
1.      Operasi Pemasangan Sistem VP Shunt
2.      Bedah Ventrikulostomi
3.      Terapi Motorik
4.      Terapi Antibiotik
Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meningen, yaitu lapisan pelindung yang menyelimuti otak dan saraf tulang belakang. Meningitis terkadang sulit dikenali, karena penyakit ini memiliki gejala awal yang serupa dengan flu, seperti demam dan sakit kepala.



3.2 Saran
Sebaiknya untuk penulisan makalah selanjutnya diharapkan tidak ada atau meminimalisir plagiasi didalam makalah. Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca, khususnya bagi mahasiswa Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang, untuk menambah wawasan mengenai gangguan sistem saraf.

DAFTAR RUJUKAN
Marianti. (2018). Sakit Saraf. Sakit Saraf. https://www.alodokter.com/sakit-saraf
Rizal Makarim, F. (2019). Dari Tremor sampai Kedutan, Ini 5 Gejala Penyakit Saraf. Dari Tremor Sampai Kedutan, Ini 5 Gejala Penyakit Saraf. https://www.halodoc.com/5-gejala-penyakit-saraf-yang-perlu-diketahui
Widyawinata, R. (2018). Gangguan Otak dan Sistem Saraf. Gangguan Otak Dan Sistem Saraf. https://hellosehat.com/kesehatan/penyakit/gangguan-otak-dan-sistem-saraf/

v

Komentar

  1. Saya Putri Naila Zamrudiyah absen 3 dari kelompok 5, izin bertanya..
    Dari berbagai sumber yang saya baca, meningitis rentan terjadi pada bayi. Apakah meningitis pada bayi dapat memunculkan gejala yang berbeda tiap tahapan usia atau hanya ditandai dengan munculnya benjolan di kepala saja dengan gejala flu seperti biasa? lalu apakah yang menjadi penyebab rentannya meningitis yang terjadi pada bayi tersebut? serta bagaimana tindakan pencegahan dan pengobatan yang tepat pada bayi? Apakah tindakan yang dilakukan pada bayi sama dengan pengobatan pada orang dewasa? terimakasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya mella nur absen 28 izin menjawab,
      Gejala meningitis yang terjadi pada bayi
      Umumnya, gejala awal meningitis memiliki kemiripan dengan gejala penyakit flu. Namun, tetap terdapat perbedaan gejala pada tiap tahapan usia, sebagai berikut:
      a. Usia 0-3 bulan: Demam, malas minum, muntah, perubahan suhu tubuh dan kesadaran menurun, ubun-ubun bayi menonjol, kejang, dan henti nafas.
      b. Usia 3 bulan-2 tahun: Demam, muntah, gelisah, kejang, tangis menjerit seperti kesakitkan, ubun-ubun bayi menonjol, dan tanda rangsang meningeal atau selaput otak sulit dievaluasi. 
      c. Di atas 2 tahun: Demam, menggigil, muntah, nyeri kepala, kejang, gangguan tingkah laku, penurunan kesadaran, dan kaku kuduk (rasa kaku di belakang leher).
      Menigitis rentan terjadi kepada bayi, terutama yang berusia di bawah dua bulan. Karena di usia ini, sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang dengan baik. Akibatnya, bakteri dapat masuk ke aliran darah dengan mudah. Bakteri yang menjadi penyebab meningitis pada bayi.
      - Bayi baru lahir (Streptococcus b haemolyticus, escherichia coli, listeria monocytogenes, enterobacter).
      - Bayi dan balita (Hemophilus influenza type B, streptococcus pneumoniae, neisseria meningitides, ecoli, listeria monocytogenes).
      - Bayi > 5 tahun (Streptococcus pneumoniae, neisseria meningitides, hemophilus influenza type B).
      Untuk mencegah Bayi terkena meningitis, Orang tua perlu melengkapi imunisasinya sesuai jadwal, termasuk imunisasi untuk campak, polio, gondok, cacar air, dan influenza. Meski tidak bisa melindungi Bayi sepenuhnya dari meningitis, kelima vaksin ini bisa membantu menjaga tubuhnya dari serangan virus penyakit ini. Pastikan juga dia mendapat vaksin Hib saat usianya 2, 3, 4, dan 15 bulan; serta vaksin meningokokus pada usia 2, 4, dan 6 bulan.
      Perawatan pengobatan antara bayi dan dewasa berbeda, disesuaikan dengan umur dan berat badan penderita
      Pengobatan meningitis dapat dilakukan dengan beberapa langkah di bawah ini:
      1. Meningitis bakteri
      Untuk meningitis yang disebabkan bakteri, penanganannya berupa pemberian obat antibiotik spektrum luas melalui intravena (infus) dan obat kortikosteroid. Dokter juga bisa mengeluarkan semua cairan sinus atau mastoid yang telah terinfeksi.
      2. Meningitis virus
      Untuk meningitis akibat virus, penderita biasanya akan sembuh dengan sendirinya setelah beberapa minggu. Hal-hal yang dapat dilakukan untuk melancarkan proses pemulihan meliputi:
      Istirahat total
      Mengonsumsi banyak cairan
      Mengonsumsi obat antinyeri untuk mengurangi demam dan rasa sakit lainnya
      Dokter mungkin akan memberikan obat kosrtikosteroid untuk mengurangi pembengkakan di otak dan obat antikejang guna mencegah kejang.
      3. Meningitis jamur
      Penanganan meningitis jamur dilakukan dengan penggunaan obat-obatan antijamur.
      4. Meningitis parasit
      Meningitis akibat parasit akan diobati berdasarkan gejala jenis parasit yang menjadi penyebabnya.
      5. Meningitis non-infeksi
      Untuk meningitis non-infeksi yang akibat kondisi autoimun, akan  diobati dengan pemberian kortikosteroid. Sedangkan meningitis yang terkait dengan kanker, memerlukan terapi yang lebih spesifik untuk kanker

      Hapus
    2. permisi saya laila absen 2 perwakilan dari kel 10 izin menambahkan
      1.Apakah meningitis pada bayi dapat memunculkan gejala yang berbeda tiap tahapan usia atau hanya ditandai dengan munculnya benjolan di kepala saja dengan gejala flu seperti biasa?
      jawab : meningitis pada bayi dapat memunculkan gejala yang berbeda dri tiap tahapan usia misal
      a. Usia 0-3 bulan: Demam, malas minum, muntah, perubahan suhu tubuh dan kesadaran menurun, ubun-ubun bayi menonjol, kejang, dan henti nafas.
      b. Usia 3 bulan-2 tahun: Demam, muntah, gelisah, kejang, tangis menjerit seperti kesakitkan, ubun-ubun bayi menonjol, dan tanda rangsang meningeal atau selaput otak sulit dievaluasi. 
      c. Di atas 2 tahun: Demam, menggigil, muntah, nyeri kepala, kejang, gangguan tingkah laku, penurunan kesadaran, dan kaku kuduk (rasa kaku di belakang leher).

      2.lalu apakah yang menjadi penyebab rentannya meningitis yang terjadi pada bayi tersebut?
      jawab :
      Meningitis adalah peradangan pada meningens atau lapisan pelindung di sekitar otak. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus ini bisa menyerang siapa saja, terutama bayi.

      Berikut jenis virus dan bakteri penyebab meningitis:
      a. Bakteri penyebab meningitis pada bayi.
      - Bayi baru lahir (Streptococcus b haemolyticus, escherichia coli, listeria monocytogenes, enterobacter).
      - Bayi dan balita (Hemophilus influenza type B, streptococcus pneumoniae, neisseria meningitides, ecoli, listeria monocytogenes).
      - Bayi > 5 tahun (Streptococcus pneumoniae, neisseria meningitides, hemophilus influenza type B).

      b. TBC (Meningitis tuberkulosis).
      TBC (Meningitis tuberkulosis) merupakan proses inflamasi yang terjadi pada meningens dan disebabkan oleh infeksi bakteri Mycrobacterium tuberculosis. Umumnya, bakteri ini masuk ke dalam paru-paru secara tidak sengaja karena adanya proses inhalasi (dihirup), sehingga menyebar ke seluruh tubuh dan dapat mencapai lapisan meningens.
      c. Virus penyebab meningitis pada bayi.
      - Virus Herpes simplex (HSV), jenis virus yang bisa menyebar dengan cepat melalui kontak fisik. Jika ibu yang menderita virus HSV di vagina melahirkan secara normal, maka kemungkinan dapat menularkan kepada bayinya.
      - VirusVaricella zoster, jenis virus menular yang bisa menyebabkan cacar air. Penularan virus ini melalui pernapasan dan komunikasi langsung.
      Campak dan gondong, cara penularan virus ini hampir sama dengan virus influenza.
      - Non-Polio enteroviruses, jenis virus ini seringkali menyebar melalui air liur, tinja, atau lendir dari hidung.

      Mikroorganisme tersebut mencapai selaput otak melalui empat rute, yaitu penyebaran langsung melalui darah, penjalaran melalui pleksus koroideus, pecahnya abses otak di daerah korteks otak dan penyebaran secara perkontinuitatum (kontak langsung).


      3.serta bagaimana tindakan pencegahan dan pengobatan yang tepat pada bayi?
      jawab : pastikan status gizi anak dalam keadaan baik, jaga kebersihan diri dan lingkungan anak, serta lakukan imunisasi secara teratur pada anak sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).Khusus untuk imunisasi meningitis, pastikan anak anda mendapatkan imunisasi Hib yang terdapat pada imunisasi kombo dengan DPT, hepatitis, polio, dan PCV (pneumokokus). 

      4.Apakah tindakan yang dilakukan pada bayi sama dengan pengobatan pada orang dewasa? 

      jawab : tidak sama,karena penanganan meningitis diliat dari penyebabnya dan daya tahan tubuh bayi dengan orang dewasa jelas berbeda maka dari itu pengobatannya juga berbeda.
      itu yang bisa kami jawab apabila ada kesalahan bisa ditambahkan terimakasih

      Hapus
    3. Jawabanya sudah cukup baik yaa..pada umumnya gejala meningitis yang utama adalah demam, kaku kuduk dan sakit kepala, dapat terlihat ruam kemerahan pada kulit. Tentu saja pilihan terapi pada bayi dan orang dewasa bergantung pada penyebab. Dosis obat juga pasti akan jauh berbeda.

      Hapus
  2. Saya Lenia dari kelompok 1 absen 9, ingin bertanya tolong jelas kan apa yang di maksud dengan terapi motorik serta berikan contoh terapi motorik untuk anak yang mengalami Hidrosefalus. Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya Laila absen 2 izin menjawab pertanyaan dari lenia
      terapi motorik adalah sensomotorik dan proses neurologi (saraf )dengan mengolah dan melengkapi serta memperlakukan lingkungannya dengan sedemikian rupa hingga tercapai peningkatan,perbaikan dan pemeliharaan kemampuan anak. contohnya ialah terapi okupasi atau OTG (Occupational Therapy Games),terapi wicara/terapi fisik.

      Hapus
    2. sudah cukup baik, tambahannya melatih otot dengan latihan gerak pasif atau fisiotherapy yang lainnya

      Hapus
  3. Assalamualikum teman-teman, Saya erly arsitama absen 16 dari kel.7.Ijin bertanya, saya mempunyai teman saat berlari atau berolahraga dicuaca panas keringatnya keluar sedikit dan bahkan tidak keluar sama sekali.Apakah kemungkinan saraf otonom nya terjadi cedera dan apabila dia tetap berolahraga di cuaca panas , dan keringatnya keluar sedikit, Bagaimana solusinya menurut kelompok anda. Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya Citra Noriya No absent 12. Izin menjawab.
      Sedikitnya keringat yang keluar bisa juga berkaitan dengan kondisi saraf. Cedera yang terjadi pada saraf yang membantu mengendalikan fungsi saraf otonom dapat mengganggu aktivitas kelenjar keringat. Saraf otonom adalah saraf-saraf yang mengatur organ dalam, kelenjar keringat, dan tekanan darah. Kerusakan saraf semacam itu bisa disebabkan oleh sejumlah masalah medis antara lain:
      Ross syndrome, yakni kondisi kelainan langka yang ditandai dengan kegagalannya tubuh untuk berkeringat dan pupil mata yang tidak bisa melebar dengan baik.
      Diabetes melitus
      Penyakit Parkinson
      Amylidosis
      Horner syndrome
      Penyakit Fabry

      SOLUSI yang dapat diberikan :
      Sebelum berolahraga, pastikan Anda sudah mengonsumsi cairan yang cukup untuk melancarkan produksi keringat. Ketahui juga intensitas latihan yang tepat untuk diri Anda sendiri untuk menentukan berat latihan yang sesuai hingga bisa meningkatkan suhu inti tubuh.

      Selain itu, bagi Anda yang memiliki kondisi khusus sehingga tidak bisa menghasilkan keringat dengan baik, lakukan pendinginan tubuh secara manual. Jika Anda sudah merasa panas, hentikan olahraga Anda dan segera dinginkan tubuh Anda dengan mandi, atau jika tidak ada kamar mandi basuh air ke wajah Anda, atau lap handuk basah ke kulit Anda.

      Minum cairan yang banyak dan cari tempat yang sejuk untuk beristirahat sampai Anda merasa lebih sejuk. Jangan lupa juga untuk mengonsultasikan kondisi Anda ke dokter untuk memastikan penyebab pasti dan tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan agar tidak menimbulkan masalah ke depannya saat berolahraga.

      Hapus
  4. Saya Nina Fitri Absen 11 dari kelompok 5 izin bertanya.
    Jelaskan perbedaan antara pemberian terapi antibiotik dan terapi herbal, lalu berikan contoh masing-masing terapi beserta bagaimana cara menangani hidrosefalus yang dialaminya, agar jalan keluarnya tidak dilakukan dengan cara operasi atau ventrikulostomi.
    Terimakasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya Laila absen 2 ijin menjawab pertanyaan dari nina

      1.Jelaskan perbedaan antara pemberian terapi antibiotik dan terapi herbal,
      Jawab :
      terapi antibiotik adalah terapi obat yang digunakan untuk mengatasi dan mencegah infeksi bakteri. Obat ini bekerja dengan cara membunuh dan menghentikan bakteri berkembang biak di dalam tubuh. Antibiotik tidak dapat digunakan untuk mengatasi infeksi akibat virus, seperti flu.Sedangkan terapi herbal adalah pengobatan tradisional menggunakan tanaman² herbal

      2.lalu berikan contoh masing-masing terapi beserta bagaimana cara menangani hidrosefalus yang dialaminya, agar jalan keluarnya tidak dilakukan dengan cara operasi atau ventrikulostomi.

      jawab:

      -contoh terapi antibiotik bisa dengan Cefotaxime dan Ceftriaxone adalah antibiotika utama pada pasien hidrosefalus
      -contoh terapi herbal bisa dengan obat herbal hidrosefalus salah satunya yaitu QnC jelly gamat obat ini terbuat dari 100% bahan alami,terdiri dari ekstrak teripang emas murni 100%,sweetener stevia,air RO,pengemulasi nabati,essen natural,ekstrak buah dan sayur.obat herbal ini tidak memiliki efeksamping dan tidak ada ketergantungan

      itu jawaban dari kel kami,jika ada kekurangan silahkan ditambahkan.terimakasih

      Hapus
  5. Assalamualaikum wr.wb
    Saya Amelia Danyswara no. 25 dari kelompok 9 izin bertanya
    Pertanyaan :
    Diatas dijelaskan bahwa tanda dan gejala gangguan sistem syaraf adalah adanya kedutan pada mata atau bagian tubuh lainnya yang tidak kunjung membaik, hal tersebut dapat dikatakan tanda dan gejala apabila terjadi berapa lama ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Permisi saya Laila absen 2 ijin menjawab pertanyaan dari amel
      Hal tersebut bisa dikatakan tanda dan gejala apabila mata kedutan timbul selama berhari hari atau bahkan berbulan bulan. Terimakasih

      Hapus
  6. Saya Farhah Nahdia Kamilah nomor 26 dari kelompok 4 izin bertanya, terkadang bayi yang baru lahir bisa terkena hidrosefalus, apakah bisa kita mengetahui ada tidaknya hidrosefalus saat masih dalam kandungan? Jika ada bagaimana cara untuk mendeteksi penyakit hodrosefalus untuk bayi yang masih ada didalam kandungan ibu? Terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Permisi saya Laila absen 2 ijin menjawab pertanyaan dari mila

      Iya bisa dan hal tersebut bisa dilihat dari MRI atau USG Prenatal
      MRI bisa menghasilkan gambar otak yang lebih rinci. Pencitraan dengan USG prenatal antara 15 dan 35 minggu kehamilan. USG relatif lebih aman dan rendah risiko, serta dapat dilakukan sebagai pemeriksaan awal untuk mendeteksi hidrosefalus pada janin dalam kandungan atau bayi yang sudah lahir.

      Hapus
    2. Baik terima kasih, izin bertanya lagi, jika bayi dalam kandungan, apa ciri ciri atau tanda yg bisa dilihat dari pemeriksaan tersebut sehingga menandakan bayi tersebut terkena hedrosefalus?

      Hapus
    3. saya laila absen 2 ijin menjawab

      Penyebab bayi terkena hidrosefalus dalam kandungan ialah :
      1. Kelainan bawaan

      Hidrosefalus biasanya terjadi karena kelainan bawaan yang disebabkan oleh infeksi toksoplasmosis di dalam kandungan. Infeksi ini mampu menembus janin, mengakibatkan peradangan otak, serta menginfeksi jaringan saraf otak.

      2. Kekurangan Asam Folat

      Itulah mengapa banyak produk susu ibu hamil yang iklannya dengan menggadang-gadang kata “asam folat”. Karena ia dipercaya memiliki peran penting dalam fase pembentukan sistem saraf pusat, serta mencegah terjadinya kecacatan pada bayi.
      3. Virus rubella

      Adanya infeksi tertentu selama masa kehamilan yang mampu memicu peradangan pada otak janin, seperti rubella (campak Jerman) atau sifilis.

      4. Cacat

      Hidrosefalus juga bisa disebabkan karena adanya cacat bawaan di mana tulang belakang bayi tidak dapat menutup sempurna selama dalam kandungan, sehingga menimbulkan gangguan sirkulasi cairan otak yang tidak seimbang

      Hapus
  7. Saya Aprilia Dyah Wahyuning Arti absen 14 perwakilan dari kelompok 2 izin bertanya. Pada cara penanganan gangguan sistem saraf disebutkan bahwa ada Pengobatan untuk mengatasi kondisi autoimun , bagaimana cara pengobatanya. Dan ditujukan untuk semua kalangan atau tidak?. Terimakasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. pertanyaan ini juga belum dijawab oleh kelompok penyaji

      Hapus
  8. Assalamualaikum wr wb
    saya nadilah nur yuanita absen 18 izin bertanya, apa saja gejala meningitis yang terdapat pada bayi? terimakasih

    BalasHapus
  9. Saya Khoirun Nisa absen 35, izin bertanya. Bagaimana cara kita sebagai perawat dalam mengatasi dan memberikan pertolongan pertama pada seseorang yg tiba-tiba kejang dijalan dan memang orang tersebut mempunyai riwayat penyakit meningitis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang ini kok belum dijawab sama kelompok penyaji?
      jika ada seseorang yang kejang, yang terpenting adalah pastikan keamanan, jangan masukan sendok atau benda apapun ke mulut, pasien jangan direstrain, dan segera setelah kejang posisikan pasien miring, agar jalan nafas patent dan tidak aspirasi oleh lendir dan sekret.
      Meningitis adalah kondisi yang dapat menular, karena itu pastikan APD dipakai terutama masker dan sarung tangan

      Hapus
  10. Secara umum sudah baik penyajiannya, diskusinya saya lihat sudah berjalan.
    Namun, penyakit saraf yang dibahas pada awal materi itu terlau umum. sebaiknya dibahas secara spesifik. Jadi pembahasan tentang penyakit saraf diatas bisa diganti dengan stroke atau dihilangkan saja, karena kalian juga sudah membahas meningitis dan hidrosefalus.

    BalasHapus

Posting Komentar